Blog ini berisi catatan ringan tentang bagaimana memaknai hidup dan memberikan makna pada kehidupan. Tentu setiap coretan yang tersaji masih jauh dari kesempurnaan. Namun, berbekal keinginan untuk belajar memaknai hidup-lah yang membuat saya "keukeuh" untuk bereskpresi melalui blog ini.
Senin, 22 Agustus 2011
Menulislah Setiap Hari Walau Satu kalimat
Bagi sebagian orang, menulis nampaknya masih menjadi sebuah aktivitas yang sangat membosankan. Banyak dari kelompok ini menilai kegiatan menulis tak bermakna apapun kecuali memusingkan dan membuang-buang waktu. Sebagai alternatif, rutinitas seperti menonton TV, “window shopping” di mall, menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu luang. Parahnya, realitas semacam ini ternyata tidak hanya ditemui pada masyarakat (maaf) awam tetapi juga masyarakat akademis yang notabene tahu akan arti penting rutinitas menulis baik sebagai bagian dari tugas maupun sekedar menumpahkan rasa galau alias curhat problema hidup yang nampak semakin hari semakin komplek saja.
Jika kita telaah, kegiatan menulis terbukti menyehatkan. Hernowo misalnya, meyakini bahwa kegiatan menulis merupakan kegiatan reflektif yang sangat bermanfaat bagi kesehatan baik fisik maupun mental. Mereka yang rajin menuangkan gagasan dan perasaan yang tengah dialami dalam bentuk tertulis, misalnya, umumnya terhindar dari depresi yang selama ini diyakini bibit beragam penyakit seperti jantung, darah tinggi bahkan pikun. Hal ini terjadi karena kegiatan menulis memberikan kesempatan pada otak untuk bekerja secara sistematis dan pada saat yang sama melakukan regenerasi sel baru dengan kegiatan berpikir yang berlangsung selama kegiatan menulis dilakukan. Dengan kata lain, menulis bisa dijadikan terapi kesehatan yang murah dan mudah dilakukan.
Dalam dunia akademis, kegiatan menulis harusnya dijadikan sebuah kebutuhan. Dosen, guru, mahasiswa, siswa hendaknya rutin melakukan kegiatan ini untuk mengasah keterampilan berpikir kritis sekaligus menjembatani proses transformasi ilmu pada khalayak. Bagi dosen, utamanya, kegiatan menulis menjadi sesuatu yang “sacral” karena tulisan yang diproduksi merupakan bendera keilmuan penegas citra diri sebagai guru sekaligus ilmuan. Rutinitas ini sekaligus akan menghindarkan kejadian tragis dalam dunia kademis –PLAGIARISME.
Jadi, mari sisihkan waktu untuk menulis, merangkai kata dan membangun makna lewat tulisan-tulisan kita. Selain menyehatkan dan mencerdaskan, tulisan kita mungkin bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi diri dan bangsanya. Kalau sudah begini, amalan kitapun semakin bertambah, amin…insya Allah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Hoho.. Mr. Sam... tulisannya.. bagusss..
Posting Komentar