Senin, 17 Juni 2013

Maju dan Berkembang itu Hak setiap orang!

Mungkin banyak dari kita yang merasa bingung dan merasa terkungkung di tempat dimana kita berada saat ini. Tempat kerja yang kurang kondusif untuk maju dan rekan sejawat yang tidak “happy” dengan “gelagat” kita yang senantiasa senang untuk berfikir dan bertindak progresif, misalnya, acapkali menjadi penyebab runtuhnya bangungan semangat untuk maju dan berinovasi di tempat kerja. Semesta seolah tidak bersekutu dengan apa yang kita inginkan. Alhasil, kita merasa sangat tidak berdaya untuk berbuat sesuatu yang “besar” yang sebetulnya dapat kita lakukan dengan segala potensi yang tuhan telah berikan pada diri kita. Potensi yang diberikan sebagi bekal kita untuk beribadah, beramal sebanyak-banyaknya untuk bekal pulang kita nanti ke alam akhirat. Janganlah takut untuk terus berinovasi karena pada hakikatnya setiap dari kita berhak untuk maju dan berkembang. Dengan semua tantangan yang ada, fokus kita hendaknya ada pada apa yang dapat kita lakukan dengan segala potensi diri bukan pada apa yang orang lain coba ciptakan pada diri kita karena faktanya kita tidak bisa mengontrol pemikiran orang lain terhadap diri kita. Orang lain yang tidak seirama dengan kita kadang-kadang justru pencipta situasi yang membuat kita tertantang untuk membuktikan kepasitas diri. Kita terus berbuat sesuatu untuk menunjukan bahwa kita mampu tampil beda dan mengukir prestasi yang membuat sebagian orang bedecak kagum. Begitulah hasilnya jika kita melihat realitas yang kurang kondusif dari kacamata yang positif. Yakinlah bahwa keinginan untuk maju dan berbuat sesuatu yang lebih baik itu adalah ibadah yang bernilai tinggi dimata tuhan, Allah SWT. Janganlah membenci mereka yang bersebrangan dan mereka yang mungkin membenci kita. Kebencian kita pada orang lain sejatinya adalah racun yang sangat mematikan. Tidak hanya kematian daya cipta yang akan terjadi namun juga hati. Yakinlah bahwa cinta dan kasih sayang itu adalah obat pada jiwa yang lara dan penerang jalan menuju pribadi yang berkembang dan maju. Mereka yang mungkin membenci kita sejatinya mereka yang membuat kita baik. Betapa tidak, yang membedakan kita dengan mereka adalah sebuah pilihan sikap yang dampaknya akan sangat luar biasa. Sikap positif dan welas asih yang kita pilih akan menuntun kita pada kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna. Sementara mereka yang membiarkan kebencian ada pada hati mereka, dengan segala kamoflase keberhasilan yang mungkin mereka dapatkan, sebetulnya pada kehidupan yang merugi. Jadi, apapun realitas yang kita hadapi, harapan untuk terus maju dan berkembang itu selalu dan akan selalu ada. Fokuslah pada hal-hal baik yang dapat kita lakukan, stay different! Kepicikan orang lain, kebencian orang lain terhadap diri kita biarlah Allah saja yang menilainya. Kita bukan hakim, kita hanya pejalan yang sedang belajar untuk memberikan manfaat di tempat-tempat yang kita singgahi.

Selasa, 11 Juni 2013

Teaching as Public Speaking

Buku dengan judul "Teaching as Public Speaking" ini membahas pentingnya memahami dengan utuh prinsip-prinsip berbicara di depan umum (public speaking) yang dapat diterapkan dalam kegiatan mengajar di dalam kelas agar cara kita mengajar tidak monoton dan membosankan. Beberapa topik yang disajikan dalam buku ini antara lain: PART ONE 1. Teaching as Public Speaking 2. Teacher’s Speech Types 3. Teaching Delivery 4. Nervousness: A First Day of Classroom Syndrome 5. Humor: Give It a Try! PART TWO 1. Teaching Presentation 2. Teaching Speech 3. Teaching Debate 4. Teaching Story Telling 5. Teaching Mc-ing Jika tertarik untuk memiliki buku ini, Anda bisa langsung hubungi saya di nomer (087 871 260 945) atau via email (hudi_samanhudi@yahoo.com)

Higher Education Management

Isu yang mengemuka pada Workshop on Higher Education Management yang diselenggarakan oleh Konsorsium Perguruan Tinggi Indonesia Pitsburg (KPTIP)yang diselenggarakan di Universitas Negeri Malang (10-12 Juni 2013) adalah pentingnya pembaharuan pembelajaran di universitas guna mendukung percepatan peningkatan kualitas lulusannya. Menurut pemateri dalam workshop tersebut (Dr. James Jacob dari Univ of Pitsburg) pembaharuan tersebut dapat difokuskan pada beberapa isu penting antara lain pengembangan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan pasar. Dalam hal ini, pengembangan kurikulum universitas hendaknya melibatkan pihak industri sebagai user para lulusannya dengan cara membuat dewan penasehat industri (DPI) yang berfungsi untuk memberikan masukan bagi pengembangan kurikulum tersebut. Isu lain adalah pengembangan keterampilan komunikasi baik lisan maupun tertulis para mahasiswa. Agar lebih fokus, setiap universitas sangat dianjurkan untuk membentuk Lembaga khusus yang mengurusi pengembangan keterampilan ini. isu yang menarik berikutnya berkaitan dengan program magang. Program ini sangat dianjurkan untuk dilakukan agar mahasiswa memiliki pengalaman praktis yang berkaitan dengan bidang keilmuannya masing-masing. Dalam workshop ini juga dibahas pentingnya sistim mentoring bagi para dosen muda yang belum berpengalaman dalam menulis. Dosen-dosen senior yang sudah berpengalaman hendaknya secara sukarela membimbing para juniornya. Hal ini dapat dilakukan melalui kegitan penulisan makalah bersama atau penelitian yang hasilnya dapat ditulis dalam bentuk artikel jurnal yang kemudian dapat dipublikasikan. Dengan cara ini, regenerasi keilmuan dapat berjalan dengan baik dan tentu berimplikasi pada peningkatan kualitas dan kultur akademik di lingkungan kampus.Cara lain yang dapat dilakukan adalah melaui kegiatan peer evaluation yang berfungsi untuk memberikan feedback pada kinerja rekan sejawat secara umum maupun keterampilan mengajarnya di dalam kelas.

Reading to Learn Program

Keterampilan menulis bisa ajarkan! Berangkat dari keyakinan pada apa yang ditegaskan pada kalimat di atas, sebuah pendekatan pengajaran menulis kini banyak didiskusikan. Para ahli banyak yang menawarkan pendekatan pengajaran menulis yang diyakini mampu meng-upgrade kemampuan sekaligus keterampilan siswa dalam menulis. Salah satu pendekatan pengajaran yang saat ini mengemuka adalah Reading to Learn yang digagas oleh David Rose dari Sydney University. Dengan tahapan yang pengajaran yang terintegrasi dengan kegiatan membaca, pendekatan ini menawarkan solusi jitu bagi siswa atau mahasiswa yang tertarik untuk meningkatkan keterampilan menulis. Tahapan tersebut antara lain Preparing Before Reading, Detailed Reading, Joint writing, Note taking dan Independent writing. Informasi lebih lengkap dapat langsung www.readingtoleran.au.

Senin, 22 Agustus 2011

Menulislah Setiap Hari Walau Satu kalimat



Bagi sebagian orang, menulis nampaknya masih menjadi sebuah aktivitas yang sangat membosankan. Banyak dari kelompok ini menilai kegiatan menulis tak bermakna apapun kecuali memusingkan dan membuang-buang waktu. Sebagai alternatif, rutinitas seperti menonton TV, “window shopping” di mall, menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu luang. Parahnya, realitas semacam ini ternyata tidak hanya ditemui pada masyarakat (maaf) awam tetapi juga masyarakat akademis yang notabene tahu akan arti penting rutinitas menulis baik sebagai bagian dari tugas maupun sekedar menumpahkan rasa galau alias curhat problema hidup yang nampak semakin hari semakin komplek saja.

Jika kita telaah, kegiatan menulis terbukti menyehatkan. Hernowo misalnya, meyakini bahwa kegiatan menulis merupakan kegiatan reflektif yang sangat bermanfaat bagi kesehatan baik fisik maupun mental. Mereka yang rajin menuangkan gagasan dan perasaan yang tengah dialami dalam bentuk tertulis, misalnya, umumnya terhindar dari depresi yang selama ini diyakini bibit beragam penyakit seperti jantung, darah tinggi bahkan pikun. Hal ini terjadi karena kegiatan menulis memberikan kesempatan pada otak untuk bekerja secara sistematis dan pada saat yang sama melakukan regenerasi sel baru dengan kegiatan berpikir yang berlangsung selama kegiatan menulis dilakukan. Dengan kata lain, menulis bisa dijadikan terapi kesehatan yang murah dan mudah dilakukan.

Dalam dunia akademis, kegiatan menulis harusnya dijadikan sebuah kebutuhan. Dosen, guru, mahasiswa, siswa hendaknya rutin melakukan kegiatan ini untuk mengasah keterampilan berpikir kritis sekaligus menjembatani proses transformasi ilmu pada khalayak. Bagi dosen, utamanya, kegiatan menulis menjadi sesuatu yang “sacral” karena tulisan yang diproduksi merupakan bendera keilmuan penegas citra diri sebagai guru sekaligus ilmuan. Rutinitas ini sekaligus akan menghindarkan kejadian tragis dalam dunia kademis –PLAGIARISME.

Jadi, mari sisihkan waktu untuk menulis, merangkai kata dan membangun makna lewat tulisan-tulisan kita. Selain menyehatkan dan mencerdaskan, tulisan kita mungkin bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi diri dan bangsanya. Kalau sudah begini, amalan kitapun semakin bertambah, amin…insya Allah.

Minggu, 31 Juli 2011

Menggali Potensi Diri: Langkah Awal Menuju Keberhasilan Hidup?

Saya yakin, tidak ada satupun dari kita yang ingin menjadi pribadi yang gagal dalam kehidupan kita masing-masing. Semua dari kita tentu ingin menjadi pribadi yang tidak hanya mampu berkarya untuk kepuasan diri pribadi tetapi juga bagi orang lain di sekitar kita. Masalahnya, banyak dari kita yang nampak masih belum tahu jalan menuju keinginan tersebut. Semua seolah berhenti pada titik harapan semata tanpa upaya untuk menjadikannya sesuatu yang nyata. Pada akhirnya kita dipaksa untuk hanya menjadi penonton sejati dari keberhasilan orang lain. Naudubilahimindzalik, semoga Anda dan saya tidak termasuk pada golongan tersebut, golongan manusia yang hanya bisa berharap tapi tidak tahu bagaimana berbuat untuk merealisasikan apa yang diharapkan-hope is nothing without action.

Jauh sebelum saya bergaul dengan para penulis buku-buku motivasi, bapak saya dengan segala kesederhanaannya mengajari saya untuk melihat ke dalam diri dan menemukan sisi terbaik dalam diri saya. Mungkin ini bahasa sederhana dari apa yang kebanyakan orang katakan tentang “potensi diri”. Meski masih sulit dan harus terus belajar, dari sinilah saya “berangkat” mengarungi kehidupan dan dari sini pulalah saya mulai belajar menanamkan keyakinan akan kemampuan diri. Saya yakin, untuk mengarungi kehidupan, kita dibekali oleh Allah SWT sesuatu dalam diri yang bisa kita kembangkan dan abdikan. Inilah titipan Allah SWT yang mungkin bisa kita jadikan bekal dalam mengarungi kehidupan-belajar berbuat untuk diri sendiri dan orang lain dengan titipan potensi diri yang telah Allah wariskan.

Kawan, dari sini saya juga belajar bahwa menggali potensi diri secara maksimal bisa menjadi salah satu kunci keberhasilan kita. Dan ini memang sulit. Tak heran jika penulis seperti I Gede Prama menulis banyak buku hanya untuk membimbing pembacanya melihat dan merefleksikan apa yang ada dalam diri masing-masing sebagai sumber kekuatan. Mungkin Anda pun sama dan saya yakin bisa melakukan hal yang serupa. Untuk bisa menjadi pribadi yang “mumpuni”, bisa kita awali dengan melihat apa yang “unik” dalam diri kita. Ini bisa kita lakukan dengan melakukan hal-hal positif yang kita sukai karena biasanya apa yang kita sukai itulah yang menjadi jalan hidup sekaligus jalan keberhasilan bagi kita. Anda yang saat ini suka dengan kegiatan olahraga tertentu, misalnya, tidak mustahil akan menjadi “exemplary figure” dalam bidang yang Anda geluti saat ini di masa yang akan datang. Semua akan sangat bergantung pada upaya Anda untuk terus meningkatkan valensi diri terutama pada bidang yang Anda minati tersebut.

Bagi Anda, siswa ataupun mahasiswa, belajar adalah kunci bagi Anda untuk mengukir masa depan yang gemilang, insya Allah. Keterampilan membaca secara kritis, misalnya, akan menjadi panduan dalam menggali sekaligus menyaring beragam informasi yang dibaca, dilihat dan didengar. Iqro, bacalah buku dan segala fenomena yang ada disekeliling sebagai bahan untuk menambah pengetahuan dan menajamkan keterampilan memaknai setiap hal. Maksimalkan potensi diri dan terus kembangkan dengan berbagai aktivitas yang tersedia di lingkungan kampus bisa menjadi cara untuk terus meningkatkan valensi diri. Selain itu, berdiskusi dengan “knowledgeable person” dapat memperkaya cakrawala untuk bekal di universitas kehidupan kelak.


Jadi, bermimpi untuk menjadi “orang besar” sah-sah saja bagi semua orang. Yang perlu kita ingat adalah “bergerak” dan terus berusaha untuk menemukan potensi diri dan mengembangkannya dengan maksimal. Seperti yang saya katakan di atas, mungkin ini bisa menjadi langkah awal untuk menjadi pribadi yang berhasil yaitu pribadi yang bermanfaat bagi sesama…selamat belajar menemukan potensi diri dan terus asah agar menjadi sebuah keterampilan yang bisa menjadi andalan dalam kehidupan kini dan nanti.